Jul 3, 2014

Profil Prabowo Subianto “Jejak Karier Militer dan Politik Sang ...

http://ift.tt/1mb7An6


302272_620


Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 telah memunculkan dua pasang calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres). Dua pasang capres dan cawapres itu yakni, Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa dengan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK).


Kali ini, Ngopo.com melansir dari Sindonews membeberkan sejumlah data terkait profil Prabowo Subianto, yang diambil dari berbagai sumber.


Memiliki nama lengkap Prabowo Subianto Djojohadikusumo, lahir di Jakarta, 17 Oktober 1951, umur 62 tahun. Dia merupakan seorang Letnan Jenderal TNI (Purnawirawan).


Prabowo merupakan putra dari pasangan Soemitro Djojohadikusumo, ekonom Indonesia dan Dora Marie Sigar, atau lebih dikenal dengan nama Dora Soemitro.


Dia cucu dari Raden Mas Margono Djojohadikusumo, anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), pendiri Bank Negara Indonesia (BNI) dan Ketua Dewan Pertaimbangan Agung (DPA) pertama.


Prabowo memiliki dua kakak perempuan, Bintianingsih dan Mayrani Ekowati, serta satu orang adik, Hashim Djojohadikusumo. Saat ini, Hashim dikenal sebagai seorang pengusaha handal, dengan bisnis di puluhan negara termasuk Kanada, Rusia dan Indonesia.


Sedangkan karier militer Prabowo dimulai tahun 1970, dengan mendaftar di Akademi Militer (Akmil) Magelang. Dia lulus tahun 1974, satu tahun setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) lulus.


Tahun 1976 Prabowo bertugas sebagai Komandan Peleton Grup I Para Komando Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopassandha) sebagai bagian dari operasi Tim Nanggala di Timor Timur, saat itu dia berumur 26 tahun dan merupakan komandan termuda dalam operasi Tim Nanggala.


Tahun 1983, Prabowo dipercaya sebagai Wakil Komandan Detasemen 81 Penanggulangan Teror (Gultor) Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Setelah menyelesaikan pelatihan Special Forces Officer Course di Fort Benning, Amerika Serikat, Prabowo diberi tanggung jawab sebagai Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara.


Akhir 1992, Xanana Gusmao berhasil ditangkap dalam operasi yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Prabowo. Informasi mengenai keberadaan Xanana Gusmao diperoleh dari sadapan telepon Ramos Horta di pengasingan.


Pada 1995, dia sudah mencapai jabatan Komandan Komando Pasukan Khusus (Kopassus), dan hanya dalam setahun sudah menjadi Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus.


Salah satu pencapaian Prabowo adalah, penyelamatan Mapenduma 1996, saat menjadi pimpinan Kopassus, Operasi Pembebasan Sandera Mapenduma. Saat itu, 12 peneliti disekap oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM).


Operasi ini berhasil menyelamatkan nyawa 10 dari 12 peneliti Ekspedisi Lorentz ’95 yang disekap oleh OPM. Lima orang yang disandera adalah peneliti biologi asal Indonesia, sedangkan tujuh sandera lainnya adalah peneliti dari Inggris, Belanda dan Jerman.


Pada 26 April 1997, Tim Nasional Indonesia ke Puncak Gunung Everest berhasil mengibarkan bendera merah putih di puncak tertinggi dunia setelah mendaki melalui jalur selatan Nepal. Tim ini terdiri dari anggota Kopassus, Wanadri, FPTI, dan Mapala UI ini diprakarsai oleh Komandan Jenderal Kopassus Mayor Jenderal TNI Prabowo Subianto.


Kemudian Prabowo dipromosikan menjadi Panglima Kostrad (Pangkostrad) dengan pangkat Letnan Jenderal. Namun, baru dua bulan menjabat, ia diberhentikan pada Mei 1998 oleh Presiden BJ Habibie. Setelah diberhentikan itu, karier militer Prabowo bisa dianggap berakhir.


Kandas di dunia militer, justru karier Prabowo cemerlang di sejumlah organisasi. Di antaranya Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), merupakan organisasi sosial di Indonesia, yang didirikan pada 27 April 1973 di Jakarta.


Sebanyak 14 organisasi pertanian tergabung di dalamnya. Pada 5 Desember 2004, Prabowo terpilih sebagai Ketua Umum HKTI, mengalahkan Setiawan Djodi dan Ja’far Hafsah.


Pada Musyawarah Nasional (Munas) HKTI ke-7, Prabowo kembali terpilih sebagai Ketua Umum 2010-2015 secara aklamasi. 32 dari 33 Dewan Pimpinan Daerah menerima laporan pertanggungjawaban Prabowo dan meminta agar Prabowo kembali memimpin HKTI.


Kemudian Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI). Pada 6 Agustus 2008, Munas APPSI secara aklamasi memilih Prabowo sebagai ketua umum APPSI untuk periode 2008-2013.


Prabowo terpilih setelah mendapat dukungan dari 29 Dewan Pimpinan Wilayah tingkat provinsi dan 199 Dewan Pimpinan Daerah tingkat kabupaten.


Tak hanya itu, Prabowo juga memimpin Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Prabowo pertama kali terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar (PB) IPSI tahun 2004. Pada SEA Games 2011 di Jakarta, cabang olahraga pencak silat berhasil mendapatkan juara umum dengan menyabet sembilan dari 18 nomor yang dipertandingkan.


Dalam kancah politik, Prabowo mengawali karier politiknya bersama Partai Golkar. Pada 2004, dia mencalonkan diri sebagai capres dari Golkar, lewat Konvesi Capres Golkar 2004. Pada konvensi ini, beberapa pentolan Golkar ikut serta. Seperti Wiranto, Akbar Tandjung, Surya Paloh, Aburizal Bakrie dan Prabowo Subianto.


Karena pada tahap pertama tidak ada satu calon yang meraih suara 50 persen lebih, maka dilakukanlah konvensi tahap kedua dengan meloloskan Wiranto dan Akbar Tandjung. Sementara itu, tiga calon lainnya tersingkir pada tahap pertama, termasuk Prabowo.


Tenggelam dalam partai berlambang pohon beringin ini, Prabowo memilih keluar dari Golkar. Posisi terakhirnya sebagai Anggota Dewan Penasihat Partai Golkar. Kemudian dia menjadi pengusaha.


Prabowo kembali aktif di politik dengan mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Lewat kendaraan politiknya itu, Prabowo mencalonkan diri sebagai wapres mendampingi Capres Megawati Soekarnoputri di Pilpres 2009.


Namun tak sesuai yang diharapkan, pasangan ini tak berhasil menang di Pilpres 2009 dan hanya meraih sekitar 26,79 persen. Pada Pilpres 2014 ini, Prabowo kembali maju dan berpasangan dengan Hatta Rajasa.


Dalam pertarungan Pilpres 2014, Prabowo memiliki gaya unik yang bisa diingat dengan mudah. Dia selalu mengenakan baju safari warna krem, dengan kedua kantong saku di kedua sisi dadanya.


Ciri khas ini membuat kita teringat dengan sosok dan gaya Presiden Soekarno. Gaya pakaian Prabowo ini, rupanya menginspirasi Hatta untuk mengenakan gaya yang sama dengan Prabowo.


Pasangan ini didukung oleh Partai Gerindra sebagai poros utama, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Golkar, dan Partai Bulan Bintang (PBB) serta terakhir Partai Demokrat. Koalisi ini dinamakan Koalisi Merah Putih.




. Tags:






Source http://ift.tt/1o43TN9

No comments:

Post a Comment

SLAWI.net | Powered by Blogger