Mencari Biografi yang Jujur : Blog Tempo Interaktif

http://ifttt.com/images/no_image_card.png


May


19


Sebagian orang mungkin merasa dirinya layak menjadi subyek utama sebuah buku yang mengisahkan kehidupannya: dalam format biografi (yang sepenuhnya ditulis oleh orang lain) ataupun autobiografi (yang seolah-olah ditulis sendiri—memakai pendekatan ‘aku’ atau ‘saya’ dalam berkisah, meski sebenarnya dibantu oleh orang lain). Motif di balik upaya menulis biografi niscaya beragam: mengikuti tren, memelihara popularitas, memeringati suatu momen, ataupun karena hendak mencalonkan diri untuk suatu jabatan politik tertentu. Setidaknya, motif itulah yang kerap ada di sini.


Apapun motifnya, orang bisa menilai mula-mula dan terutama dari karya biografinya. Sayangnya, kualitas biografi di sini seringkali tidak dapat dilepaskan dari motifnya. Akankah seseorang mengisahkan kelemahannya dan sisi buruknya bila ia menerbitkan biografi itu menjelang pemilihan suatu jabatan politik? Rasanya memang tidak akan terjadi. Bahkan, bila penerbitan itu tak terkait dengan urusan jabatan sekalipun, karena orang selalu merasa wajib bersikap ‘jaim’.


Sebuah biografi selayaknya menghadirkan pengalaman hidup yang unik sehingga orang lain bisa mengambil sari-sari dari dalamnya—normatifnya begitu. Tantangan yang dihadapi penulis biografi pun selalu sama: menemukan sudut penulisan yang unik dan mentransendenkan fakta-fakta kehidupan subyek sehingga pembaca bisa ikut memasuki ruang hati orang yang ia tulis. Ini tidak mudah, sebab subyek mungkin tidak selalu jujur mengatakan apa yang ia rasakan dan pikirkan tentang pengalaman hidupnya.


Ruang hati itu niscaya tidak selalu putih, sebagaimana pengalaman hidup juga diwarnai oleh warna abu-abu, bahkan mungkin ada bercak-bercak kehitaman. Biografi yang terbit di sini, sayangnya, mengubur sisi-sisi lemah dan menutup rapat-rapat ruang yang gelap. Biografi yang muncul menjadi kisah keberhasilan bangkit dari keterbelakangan dan kekurangan material, sehingga pembaca secara tak langsung diajak untuk memandang potret seorang hero.


Malcolm X, otobiografi yang ditulis oleh Malcolm bersama Alex Haley, dalam hemat saya, merupakan salah satu contoh (oto)biografi terbaik. Ia tidak takut mengungkapkan penggalan hidupnya yang bagi orang lain akan coba dihindari dalam penulisan biografi mereka. Kisah kebangkitannya menjadi tokoh penting di panggung sejarah Amerika tidak membuat Malcolm merasa perlu menyembunyikan relung gelap dalam hidup yang pernah dilewatinya. “Setiap hari, saya menggunakan uang persenan saya untuk berjudi dengan membeli lotere,” tulis Malcolm. Ia juga berkisah pengalamannya menjual rokok ganja dan menjadi seorang yang ateis.


Bagi Malcolm, menulis otobiografi semacam miliknya mungkin berat, tapi ia berani dan sanggup melakukannya. Steve Jobs juga bersikap seperti itu, namun ia tidak ikut menulis. Kredit baik atas kualitas biografi tentang dirinya sepenuhnya milik Walter Isaacson. Namun Jobs memberi kebebasan kepada Isaacon—yang juga menulis biografi Albert Einstein dengan bagus—untuk mewawancarai siapa saja yang ia rasa perlu, termasuk lawan-lawan Jobs dalam bisnis maupun ide atau gagasan. Meskipun Jobs tahu, namun ia tidak mencampuri apa yang ingin dan kemudian ditulis oleh Isaacson.


Menghadirkan buku biografi yang jujur memang seperti menguliti diri sendiri. Perih. Sebab itu, tak semua orang yang merasa dirinya layak di-biografi-kan sanggup menghadirikan kualitas seperti otobiografi Malcolm X ataupun biografi Steve Jobs. ****







Source http://blog.tempointeraktif.com/buku/mencari-biografi-yang-jujur/

Comments

Popular posts from this blog

Zackia Arfan Presenter Cantik MetroTV

Daftar Contact Artis 2014