Mar 16, 2014

Asyiknya Membaca Biografi dalam Bingkai Novel : Blog Tempo ...

http://ift.tt/1p0Ti6v


Mar


16


Tanpa uang sepeserpun, Vincent van Gogh berjalan kaki sejauh 170 km. Perjalanan jauh ini memakan sol sepatu satu-satunya, menumbuhlebatkan jambangnya, memeras lemak tubuhnya, dan membuat orang-orang yang berpapasan berpaling muka.


lust-for-lifein-cold-bloodIrving Stone, dalam Life for Lust, berhasil menunjukkan sudut pandang pelukis Vincent van Gogh bahwa apa yang ia lakukan, yang dipandang aneh oleh orang lain, adalah lumrah belaka. Dengan tekun, lewat diskripsi yang detail, percakapan yang imajinatif, Stone mengajak kita menyusuri perjalanan panjang menuju kegilaan melalui sekian penolakan, penghinaan, nestapa, dan salah pengertian yang dialami oleh pelukis ini.


Stone, melalui studinya yang mendalam atas surat-surat pribadi van Gogh dan adiknya, Theo, menyingkapkan kehidupan luar biasa pelukis ini sejak sebagai pelukis pemula hingga meninggal dalam kegilaan. Theo bukan hanya memainkan peran sebagai penyokong keuangan, tapi juga penopang emosionalitas kakaknya. Kematian Vincent di usia 37 tahun (1853-1890) menjadikan hidup Theo menderita. Theo menyusul kematian kakaknya 6 bulan kemudian. “Dan dalam kematian, mereka tidak terpisahkan”–tulis Irving Stone.


Kendati berbasis riset mendalam, dan Stone mengunjungi tempat-tempat yang pernah disinggahi oleh Vincent van Gogh, seperti Antwerp dan Paris, namun ia tidak menulis ‘biografi murni’. Stone menulis kisah hidup pelukis keturunan Belanda ini sebagai sebuah novel. Dan ia berhasil memaksa saya untuk membacanya dalam tempo sesingkat-singkatnya.


Novel biografi memang selalu menawan untuk dibaca. Pendekatan fiksi memberi keleluasaan kepada penulisnya untuk menghidupkan hidup orang-orang yang dikisahkan di dalamnya. Stone, sebagai misal, memanfaatkan keleluasaan itu dalam menciptakan dialog-dialog yang bernas, baik antara Vincent dengan dirinya sendiri, maupun dengan kawan-kawan pelukis semasanya, seperti Paul Gauguin.


Lewat pendekatan fiksi, penulis punya keleluasaan untuk menafsirkan peran orang-orang di sekeliling tokoh utamanya, membuat pelukisan diskriptif yang niscaya tidak mudah dikerjakan bila memakai pakem kesejarahan yang ketat. Dengan menciptakan suasana, diskripsi yang detail, tafsir yang berbasis riset (betapapun tetap tafsir), membubuhi dengan dialog (yang mungkin tidak persis seperti itu terucapkan), penulis telah menghidupkan biografi tokohnya. Dan tentu saja, juga menghibur pembacanya.


True History of the Kelly Gang merupakan novel historis yang mengesankan. Karya Peter Carey tentang sosok legendaris Ned Kelly (ia tak ubahnya Robinhood yang dihukum gantung di Melboune pada 1880 dalam usia 25 tahun) ini meraih penghargaan Booker Prize dan Commonwealth Writers Prize di tahun yang sama (2001). Kendati judulnya memakai frasa ‘true history’, karya ini sesungguhnya novel (yang berbasis kisah hidup sesungguhnya Ned Kelly). True History adalah variasi dari kisah Ned Kelly yang terbilang menyita perhatian pembacanya.


Banyak kisah hidup sosok-sosok menawan yang dituangkan melalui pendekatan fiksi. Lust for Life adalah contoh penuturan yang membuat pembacanya enggan melepas karya Irving Stone ini hingga halaman terakhir. Karya Truman Capote, In Cold Blood, boleh dibilang contoh lain yang mampu menahan pembacanya untuk tidak beranjak dari kursi—memang bukan kisah hidup seperti Vincent van Gogh , melainkan kisah pembunuhan empat anggota keluarga Clutter di Holcomb, Kansas, AS. Berbekal risetnya yang demikian detail, Capote menuliskan kembali peristiwa pembantaian itu dengan begitu mencekam. Ia memanfaatkan pendekatan novel untuk menceritakan kembali peristiwa itu.


Banyak jalan untuk menuturkan kembali kisah hidup seseorang atau suatu peristiwa dalam hidup manusia. Pendekatan novel menawarkan keunggulan dalam penceritaan kembali kisah yang memang benar terjadi, sebagaimana ditunjukkan dengan berhasil oleh Irving Stone, Peter Carey, dan Truman Capote. ***







Source http://ift.tt/1p0TfHO

No comments:

Post a Comment

SLAWI.net | Powered by Blogger